Theravada and Mahayana

( Buddhism, Theravada and Mahayana by Dr. Walpola, Dhammadesana di Kuala Lumpur, 1980, Sumber : Bunga Rampai Dhammadesana Bhikkhu Sri Subalaratano )

Marilah kita bahas suatu masalah yang sering ditanyakan oleh banyak orang. Apakah perbedaan antara Buddhisme Mahayana dan Theravada? Agar persoalannya dapat ditinjau dalam perspektif yang sewajarnya, sebaiknya kita membalik sejarah Buddhisme dan melacak timbulnya serta perkembangan aliran Mahayana dan Theravada.

Sang Buddha Gotama dilahirkan pada abad ke–6 S.M. Setelah mencapai Penerangan Agung pada usia 35 tahun sampai Beliau wafat (Mahaparinirvana) ketika berusia 80 tahun, Beliau mengisi hidupnya dengan memberi khotbah dan mengajar. Beliau merupakan orang yang paling bersemangat yang pernah hidup di dunia ini. Selama 45 tahun ia mengajar dan berkhotbah siang dan malam, tidurnya hanya kira-kira dua setengan jam sehari.

Sang Buddha berbicara kepada semua lapisan masyarakat: raja dan putri, brahmin, petani, pengemis, kaum terpelajar dan rakyat biasa. Ajaran-ajaran-Nya disesuaikan dengan pengalaman, tingkat pengertian dan kemampuan pikiran para pendengarnya. Apa yang diajarkan-Nya disebut BUDDHAVACANA, yaitu kata-kata Sang Buddha. Pada waktu itu belum ada yang disebut Theravada dan Mahayana.

Setelah mendirikan persamuan para Bhikkhu dan Bhikkhuni, Buddha menetapkan peraturan disiplin yang disebut VINAYA untuk membimbing persamuan tersebut. Ajaran-ajaran Buddha lainnya disebut DHAMMA yang termasuk percakapan-percakapan, khotbah-khotbah-Nya kepada para bhikkhu dan bhikkhuni dan masyarakat awam.

Tiga bulan setelah Buddha mencapai parinirvana, para murid dekatnya mengadakan suatu pertemuan di Rajagaha. Maha Kasyapa, bhikkhu tertua yang paling dihormati, memimpin pertemuan tersebut. Dua tokoh penting yang ahli dalam dua bidang yang berbeda : DHAMMA dan VINAYA juga hadir. Yang seorang bernama Ananda, teman dan pengikut terdekat Sang Buddha selama 25 tahun. Dengan bakat ingatan yang luar biasa, Ananda dapat mengucapkan kembali apa yang telah dikhotbahkan oleh Sang Buddha. Seorang lagi adalah Upali, yang mengingat semua peraturan Vinaya.

Hanya dua ajaran ini – Dhamma dan Vinaya – yang diulangi dalam Pertemuan Agung Pertama. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai Dhamma (tanpa menyinggung Abhidharma), diadakan pembahasan peraturan Vinaya. Sebelum Buddha mencapai parinirvana, Beliau memberitahu Ananda bahwa jika SANGHA (persamuan bhikkhu) menghendaki untuk merubah atau melunakkan beberapa peraturan yang kurang penting, maka mereka dapat melakukannya. Tetapi pada waktu itu Ananda sedang diliputi oleh kesedihan yang sangat menekan karena Buddha hampir wafat, sehingga tidak terpikir untuk menanyakan kepada Sang Guru mana yang dimaksudkan dengan peraturan yang kurang penting itu.

Karena anggota dewan tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai apa yang disebut sebagai peraturan yang kurang penting, Maha Kasyapa akhirnya menetapkan bahwa tidak satupun dari peraturan disiplin yang dibuat oleh Sang Buddha boleh dirubah dan tidak ada peraturan baru yang boleh dibuat. Tiada alasan yang hakiki yang diberikan. Namun Maha Kasyapa pernah mengatakan satu hal :

“Jika kita merubah peraturan ini, orang akan berkata bahwa murid-murid Yang Ariya Gotama merubah peraturan bahkan sebelum api perabuan jenazahnya berhenti menyala.”

Pada pertemuan itu, DHAMMA dibagi menjadi beberapa bagian dan setiap bagian harus dihafalkan oleh seorang murid tertua (elder) dan pengikutnya. Kemudian Dhamma disampaikan dari guru ke murid secara lisan. Dhamma diucapkan setiap hari oleh kelompok-kelompok yang sering mencocokkan satu sama lain untuk memastikan bahwa tak ada yang dihilangkan atau ditambahkan. Para ahli sejarah berpendapat bahwa tradisi lisan lebih dapat diandalkan daripada laporan yang tertulis oleh seseorang dari ingatannya beberapa tahun setelah kejadian.

Seratus tahun kemudian, pertemuan kedua diselenggarakan untuk membahas beberapa peraturan Vinaya. Tiga bulan setelah Buddha parinirvana tidak dirasa perlu untuk merubah peraturan, sebab hanya sedikit atau tidak ada perubahan-perubahan politik, ekonomi atau sosial dalam masa yang singkat itu. Tetapi 100 tahun berikutnya, beberapa bhikkhu menganggap perlu untuk mengadakan perubahan atas peraturan yang kurang penting tersebut. Para bhikkhu yang ortodoks mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang perlu diadakan, sedangkan yang lainya mendesak adanya perubahan beberapa peraturan. Akhirnya kelompok bhikkhu yang ingin mengadakan perubahan meninggalkan persamuan dan membentuk MAHASANGHIKA – Persamuan Agung -. Sekalipun disebut Mahasanghika, himpunan ini tidak dikenal sebagai Mahayana.

Pada pertemuan kedua ini hanya hal-hal yang berhubungan dengan Vinaya saja yang dibahas dan tidak dilaporkan adanya perdebatan mengenai Dhamma.

Pada abad ke-3 S.M. selama pemerintahan Raja Asoka, pertemuan ketiga dilangsungkan untuk membicarakan perbedaan-perbedaan pendapat diantara para bhikkhu dari berbagai sekte. Dalam pertemuan ini perbedaan-perbedaan itu tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga berkenaan dengan Dhamma. Pada akhir pertemuan ini, ketua dewan Moggalliputta Tissa menyusun sebuah kitab yang disebut KATHAVATTHU, yang mengangkal pendapat-pendapat yang bertentangan dengan Dhamma serta pandangan-pandangan dan teori-teori salah yang dianut oleh beberapa sekte. Ajaran yang disetujui dan diterima oleh Dewan ini disebut sebagai THERAVADA.

Abhidharma Pitaka juga termasuk didalam ajaran yang diterima oleh Dewan.

Setelah pertemuan ke tiga, putra Raja Asoka, Y.A. Mahinda Thera, membawa Tripitaka ke Srilanka bersama dengan komentar-komentar yang dibacakan pada Pertemuan Ketiga. Teks yang dibawa ke Srilanka disimpan sampai saat ini tanpa ada satu halaman pun yang hilang. Teks tersebut ditulis dalam bahasa Pali berdasarkan bahasa Magadhi yang dipergunakan oleh Sang Buddha. Tak ada yang dikenal sebagai Mahayana pada waktu itu.

Diantara abad ke-1 S.M. sampai abad ke-1 M. kedua istilah MAHAYANA dan HINAYANA muncul dalam SADDHARMA PUNDARIKA SUTRA atau Sutra Teratai Hukum Kebajikan (Sutra of Lotus of Good Law)

Baru kira-kira abad ke-2 M, Mahayana mendapat batasan yang jelas. Nagarjuna mengembangkan filsafat Sunyata dari Mahayana dan membuktikan bahwa segala sesuatu adalah hampa, dalam sebuah teks kecil yang dinamakan Madhyamika-Karika.

Sekitar abad ke-4 muncullah Asanga dan Vasubandhu yang menulis sejumlah karya besar mengenai Mahayana. Setelah abad ke-1 M, kaum Mahayanis mengambil sikap yang pasti dan baru pada waktu itu istilah-istilah Mahayana dan Hinayana diperkenalkan.

Kita jangan sampai mencampur-adukan Hinayana dengan Theravada, sebab kedua istilah itu bukan sinonim. Buddhisme Theravada masuk Srilanka pada abad ke-3 S.M. ketika Mahayana masih belum dikenal sama sekali. Sekte Hinayana berkembang di India dan terlepas dari bentuk Buddhisme yang ada di Srilanka. Dewasa ini tak ada lagi sekte Hinayana dimanapun di dunia. Karena itu pada tahun 1950, Persaudaraan Buddhis Sedunia yang didirikan di Kolombo dengan suara bulat memutuskan untuk menghapus istilah Hinayana bila menyebut Buddhisme yang ada di Srilanka, Thailand, Laos, Burma, Kambodia dan lain-lain.

Demikianlah sejarah singkat Theravada, Mahayana dan Hinayana.

Kini, apakah perbedaan antara Mahayana dan Theravada ?

Saya telah mempelajari Mahayana selama bertahun-tahun dan semakin lama saya mempelajarinya, semakin jelas bahwa hampir tidak ada perbedaan berarti antara Theravada dan Mahayana dalam ajaran-ajaran fundamental.

  1. Kedua aliran menerima Sakyamuni Buddha sebagai Guru.
  2. Kedua aliran menganut Empat Kesunyataan Mulia yang persis sama.
  3. Kedua aliran menerima Jalan Mulia Beruas Delapan yang sama persis sama.
  4. Kedua aliran mempunyai Pratitya Samutpadda atau sebab musabab yang saling bergantungan.
  5. Kedua aliran menolak gagasan adanya Dewa tertinggi yang menciptakan dan menguasai dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anitya, Dukkha dan Anatman dan Sila, Samadhi dan Prajna tanpa ada perbedaan

Itulah pokok-pokok ajaran terpenting dari Sang Buddha Gotama yang semuanya diterima oleh kedua aliran tersebut tanpa mempersoalkannya.

Terdapat pula pokok-pokok pikiran yang berbeda antara mereka. Salah satu yang jelas ialah mengenai BODHISATTVA. Banyak orang mengatakan bahwa Mahayana adalah untuk tingkat ke-Bodhisattva-an yang menuju ke tingkat ke-Buddha-an, sedangkan Theravada untuk tingkat ke-Arahat-an saja. Saya perlu mengatakan bahwa Sang Buddha adalah juga seorang Arahat. Seorang murid bisa juga seorang Arahat. Naskah-naskah Mahayana tidak pernah memakai istilah Arahatyana, Kereta Arahat. Yang dipakai adalah 3 istilah : Boddhisattvayana, Pratekya Buddhayana dan Sravakayana. Dalam ajaran Theravada ketiganya disebut BODHI.

Sementara orang yang ada membayangkan bahwa Theravada mementingkan diri sendiri sebab ia mengajarkan agar orang mengusahakan penyelamatan dirinya sendiri. Tetapi tidakkah terpikir oleh kita bagaimana orang yang mementingkan diri sendiri dapat mencapai Penerangan Agung? Kedua aliran menerima tiga YANA atau BODHI yang menganggap Bodhisattva sebagai yang tertinggi.

Mahayana telah menciptakan banyak Bodhisattva mistis, sedangkan Theravada menganggap Bodhisattva sebagai seorang diantara kita yang mengabdikan seluruh hidupnya mencapai kesempurnaan dan akhirnya menjadi seorang Buddha yang mencapai Penerangan Agung guna kesejahteraan dunia, kebahagiaan umat.

Ada tiga jenis tingkat ke-Buddha-an : Samyak Sambuddha yang mencapai Penerangan Agung dengan usaha sendiri, Pratekya Buddha yang mempunyai sifat-sifat dibawah Samyak Sambuddha, berusaha sendiri tapi tidak mengajar Dhamma, dan Sravaka Buddha yang merupakan Arahat pengikut Samyak Sambuddha. Pencapaian Nirvana diantara ketiga jenis ke-Buddha-an ini persis sama. Satu-satunya perbedaan ialah bahwa Samyak Sambuddha mempunyai kelebihan-kelebihan sifat mulia dan kemampuannya dibandingkan dengan kedua jenis yang lainnya.

Ada orang yang berpendapat bahwa kehampaan atau Sunyata yang dibahas oleh Nagarjuna adalah semata-mata ajaran Mahayana. Ini berlandaskan kepada gagasan Anitya atau tiadanya inti diri atas Pratitya Samutpadda yang juga terdapat dalam naskah asli Theravada dalam Bahasa Pali.

Suatu waktu Ananda bertanya kepada Buddha : “Orang berkata bahwa dunia adalah Sunya. Apakah Sunya itu?”

Buddha menjawab: “Ananda, tak ada Inti Diri di dunia ini. Karena itu dunia adalah Hampa”.

Pendapat ini diambil oleh Nagarjuna ketika ia menulis bukunya yang mengagumkan “Madyamika Karika“.

Disamping gagasan Sunyata terdapat pula konsep store-consciousness (gudang kesadaran) dalam Buddhisme Mahayana yang berasal dari naskah Theravada. Kaum Mahayanis telah mengembangkannya menjadi psikologi dan filsafat yang dalam.

Comments are closed.